Saturday, September 13, 2003

11.9

...dunia kembali mencapai sumbu keseimbangannya.

Saat dua pesawat meluluhkan menara kembar, dan manusia meregang nyawa. Seruan perang dikumandangkan. Perlu dicari hidung untuk ditunjuk, dan kami adalah benar sedangkan kalian adalah salah. Dimulailah kembali kampanye: ini barat dan itu timur. Kami korban, dan kalian yang teroris.

Aku bukan pecinta perang. Aku juga bukan seorang maniak. Tapi aku berpikir, jika tak ada perang dan konflik. Jika tak ada dendam dan permusuhan. Bayangkanlah?
Mungkin dunia tidak akan lagi menarik, dan orang akan malas untuk menjalani hidup. Mungkin tak ada lagi penemuan atau teknologi baru. Karena tak ada yang merasa tersaingi dan tak ada yang berusaha untuk mengungguli yang lainnya. Untuk apa lagi berpikir, berkreasi dan mencipta, jika diri telah menjulang sendirian dan perasaan jumawa di kepala.

Tapi jika ada kalian, ada yang di seberang, ada musuh, ada kompetitor, maka segala daya dan upaya akan dilakukan untuk mengalahkan.
Setelah itu? Kemenangan akan diraih dan lawan akan dibinasakan.
Hanya tinggal satu kuasa, dan lawan akan kembali dicari.
Peradaban akan terus berputar, seperti siklus untuk mencari keseimbangannya.
Entah sampai kapan...

Tuesday, September 02, 2003

Sok Tau!

Mereka yang tahu tidak bicara
Mereka yang bicara tidak tahu


Aku tertarik membaca dua bait kalimat di atas, yang kutemukan dalam salah satu buku tentang ajaran Zen. Beberapa kali aku ulang melafalkan kalimat itu dalam hati. Cuman sekedar untuk meresapi maknanya. Belakangan ini aku memang sering menemui orang-orang yang disebut 'mereka' dalam kalimat tersebut. Banyak omong padahal gak tahu apa-apa. Ngoceh tentang ini-itu padahal cuman sok tahu aja! Sedangkan di sisi lain, banyak orang pintar dan tahu banyak hal lebih memilih untuk diam dan jarang ngomong. Orang-orang ini lebih banyak berdiam diri dan hanya bergulat tentang ketahuannya dalam pikiran saja. Seorang temanku pernah meledek bahwa orang yang banyak omong padahal kemampuan minim sebagai," public speaking-nya bagus.

Aku tidak tahu, termasuk bagian yang mana aku. Entah apa penilaian teman-temanku. Seorang yang banyak omong padahal bego-kah? Atau orang yang jarang ngomong, tapi pinter. Hehehe... Karena itu, kali ini aku tidak mau panjang-panjang menulis. Takut disebut: Sok Tau Lo!

Sunday, August 17, 2003

Indonesia Raya

Indonesia, tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku

Indonesia, kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku
Bangsaku, rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Tanahku, negeriku, yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya...


Hari-hari belakangan ini, aku kembali mendengar bait-bait lagu yang ditulis oleh Wage Rudolf Supratman. Mencoba untuk menyimak dan merenungi bait demi bait, diiringi oleh orkestrasi musik yang megah, membuat hati ini tergetar. Kucoba lagi melantunkan syair lagu itu lamat-lamat, tanpa diringi musik dan intonasi yang ala kadarnya. Kembali perasaan yang sama menyelinap di hati. Indonesia yang elok...
Kemerdekaan, kepahlawanan, pertempuran, nasionalisme, sebuah negeri yang damai, dan Indonesia yang kucinta, seakan-akan terus mengalir mengisi otakku dan terus berputar-putar.

Tapi ketika turun ke hati, aku hanya sanggup menghela napas. Itu hanya bagaikan lagu yang meninabobokan, yang mengawang-awang. Lagu itu pula yang terus menghidupi negeri ini.
Tapi dalam angan...
Setengah abad lebih telah dilalui, dan perasaan itu hanya menyelinap sekali setahun---tiap tanggal 17 Agustus.
untuk kemudian menjadi hampa...

Indonesia, tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku...


Ya...negeriku adalah Indonesia, tempat aku lahir, dan menumpahkan darah.
Tempat aku nantinya juga akan menghembuskan napas terakhir.

Indonesia, kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu


Ya...aku dan mungkin juga sebagian besar rakyat Indonesia akan tetap berseru. Berseru dan tidak akan pernah melakukan itu. Untuk Indonesia yang satu.
Sayang...hingga hari ini, Indonesiaku belum satu. Banyak perbedaan dan keragaman yang terus dipertentangkan. Dihidupkan untuk menjadi suatu konflik yang laten (oleh penguasa?)

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku
Bangsaku, rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya


Tanahku dan negeriku tak pernah dapat menghidupi rakyatnya. Karena negeri ini terus membangun untuk memakmurkan sebagian kecil orangnya, dan menindas serta menyengsarakan sebagian besar rakayat lainnya. Dimana Indonesiaku yang makmur? Yang mampu mensejahterakan masyarakatnya, dan bukan tunduk oleh kepentingan imperiliasme gaya baru?

Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Tanahku, negeriku, yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya...


Indonesia merdeka hanya berada dalam teks pidato Soekarno dan Hatta. Hanya menjadi nyata dalam lembaran-lembaran sejarah----dimana penguasa dapat menulis dan membuat sejarahnya sendiri.
Karena Indonesiaku hari ini belum merdeka!!!
Jangankan merdeka dari jamahan tangan-tangan asing ---lewat slogan globalisme, kapitalisme, dan anti terorisme, tapi juga tidak mampu merdeka dari jamahan bangsa sendiri.
Indonesia hari ini masih belum bebas dari kaum penguasa, kaum berada, kaum bangsawan, dan kaum berpendidikan.

Lantas, aku merasa kehilangan makna atas lagu itu. Aku merasa lagu itu telah dibawa mati oleh sang penciptanya. Ia hanya hidup dalam angan setiap pendiri republik ini. Dan generasi penerusnya hanya menjadikan lagu itu sebagai salah satu simbol-simbol kekuasaannya.
Tak ada jiwa di sana, tak ada makna di sana.
Sehingga, Presiden Megawati dan semua penguasa negeri ini sekarang, hanya mendengarkan Lagu Indonesia Raya dan upacara kemerdekaan 17 Agustus sebagai rutinitas tahunan.

Aku tak merasakan apa-apa dari perayaan 17 Agustus tahun ini, dan tahun-tahun sebelumnya.
Entah tahun depan...

Tuesday, August 05, 2003

Indonesia Hari Ini

TEROR!!!

Tuesday, 5 August 2003
12.30 PM

Bom kembali mengguncang Indonesia. Tak berselang sebulan bom meledak di Gedung DPR/MPR, bom kembali mengguncang Jakarta. Di tengah istirahat siang pada awal bulan Agustus ini, bom berkekuatan besar merobek Hotel JW Mariott. Lobi hotel luluh lantak hingga merobek lambung lantai dasar. Kaca-kaca hotel di jantung kawasan mega Kuningan itu, pecah berderai. Asap hitam mengepul, menjulang....

Tak cukup itu. Di antara teriakan panik dan mimik kebingungan, 10 orang tewas dalam tragedi itu. Puluhan hingga mendekati angka ratusan manusia lainnya, mengalami cedera dan luka ringan.

Hari ini baru segitu. Tapi besok tentu akan ada efek lanjutannya. Harga saham di Bursa Efek Jakarta sempat anjlok hingga 24 poin. Nilai rupiah yang sempat perkasa dalam beberapa bulan terakhir, Selasa sore ditutup pada harga Rp 8600 per dolar. Itu indikator angka-angka perekonomian sebagai dampak dari kejadian ini. Selain itu, industri pariwisata yang mulai menggeliat paska Bom Bali, diramal akan kembali tertidur. Investasi asing yang hendak masuk ke Indonesia, kembali mengepak kopernya. Dan citra? Muka yang telah coreng-moreng ini akan kembali tertunduk dna malas untuk mendongak.

Dan apa yang tersisa dari Indonesia hari ini?
Tak sebuah makna pun, tidak juga sebuah asa...

Thursday, July 31, 2003

Monolog


Aku lagi capek...
Aku lagi mumet...
Aku lagi bingung...
Aku lagi culdesac


Cukupkah sebuah dialog dan kata-kata menghibur (baca: curhat) untuk menghapus keadaan itu? Cukupkah hiburan melarikanku dari lara, yang terus datang menghantam? Atau biarkanlah waktu yang membuai dan mengikis semua masalah?

Aku tak pernah dapat melakukan itu...Semuanya seakan meninabobokan-ku, dan menjauhkanku dari realitas. Aku memilih untuk berdiam.
Sendiri...
Karena dalam diam, aku melakukan monolog
...dengan diri sendiri.
Tentang masa lalu, terkini, dan sebuah masa depan.

Thursday, July 24, 2003

II
Orang yang menyukai teori konsprirasi tentu akan langsung menduga bahwa Blair dan dinas rahasia Inggris berada di belakang kematian Kelly. Secara fisik? Mungkin saja. Tapi walaupun tidak secara fisik, sorotan dan tekanan hebat publikasi dan pertanyaan-pertanyaan tajam dari anggota parlemen, sudah cukup mengantarkan Kelly ke liang kuburnya. Ia mengambil keputusan untuk menyudahi hidupnya.

Entah apa yang dipikirkan Kelly, saat pisau mulai menyayat nadinya. Dan darah mulai berceceran dari sayatan itu. Sebuah penyelesankah, mengapa harus menjalani hidup sebagai sang informan? Mungkin saja. Karena, jika BBC tak mengungkapkan sumber rahasia beritanya, hingga hari ini dunia tentu akan berhenti bertanya. Mata dunia pun tidak akan pernah menusuk ke tubuh Kelly. Lantas…mengapa BBC sampai tega mengungkapkan sumber beritanya. Dan mengapa pemerintahan Blair terus mendesak BBC untuk menyebut nama sumbernya?

Pertanyaan yang tak akan ada habis-habisnya, sementara saat ini Kelly telah bersemayam tenang di bawah tanah ---terlindung dari sorotan dunia. Kejadian yang sama dapat ditemui dalam kasus TEMPO vs Tommy Winata. Apa jadinya, jika Ahmad Taufik bersedia mengungkapkan jati diri sumbernya dalam tulisan: Ada Tommy di Tenabang?. Mungkin…dan sekali lagi mungkin…si sumber itu akan menemui nasib yang sama dengan Kelly.

Narasumber, kerahasiaan, dan kepercayaan, adalah kata-kata yang dapat kumaknai dalam beberapa hari terakhir ini. Mungkin perlu ditambah satu lagi, yaitu maut….

Tulisan ini aku dedikasikan untuk David Kelly, atas segala keberaniannya. Dan juga ketidakberdayaannya di tengah dua pilar negara, pers dan penguasa.
Narasumber


I
Jum’at, 18 Juli 2003, Oxfordshire, Inggris…
David Christopher Kelly, ditemukan tergeletak tak bernyawa di hutan dekat rumahnya, kawasan Harrowdown. Urat nadi di pergelangan tangannya teriris. Sebilah pisau dan obat penahan rasa sakit ditemukan di sekitar tubuhnya. Sebelumnya, pria kelahiran tahun 1944 itu telah dua hari menghilang dari rumahnya. Ia pamit kepada istrinya, Janice, untuk melakukan jalan sore.

Keesokan harinya, polisi Inggris menyatakan tidak ada pihak lain yang terlibat dalam kematian Kelly. Sehingga disimpulkan pria beranak tiga ini tewas akibat bunuh diri. Kesimpulan itu sesuai dengan penuturan Janice, bahwa suaminya berada dalam kondisi sangat tertekan ---sebelum dan sesudah sesi dengar pendapat--- dengan Komite Parlemen Inggris, hari Selasa sebelumnya.

Ahli mikrobiologi yang mengembangkan sistem pertahanan kimia dan biologi ini, adalah staf ilmuwan di Departemen Pertahanan. Selain itu, dia menjadi penasehat senior untuk senjata biologi dalam tim inspeksi senjata biologi PBB dari tahun 1994 sampai 1999. Jalan lurus hidupnya berbalik arah, saat dirinya diduga menjadi sumber rahasia dari laporan radio BBC.

Kisah berawal pada 29 Mei lalu. Radio berita terkenal itu mengudarakan tudingan bahwa dokumen pemerintah yang dipublikasikan September tahun lalu telah membesar-besarkan ancaman persenjataan kimia milik Saddam Hussein di Irak. Tujuannya, demi mendapat dukungan publik bergabung dengan Amerika dalam melakukan invasi ke Irak.

Informasi yang tentu saja semakin mengobarkan pandangan sinis dari publik di sana, bahwa ancaman persenjataan kimia milik Irak hanyalah isapan jempol pemerintahnya saja. Tokh…hingga kini tak ada satupun bukti yang ditemukan oleh dua negara sekutu itu untuk melegitimasi invasi mereka. Tekanan publik atas kejujuran pemerintahan Tony Blair, juga berimbas kepada pertanyaan: siapakah sumber informasi rahasia BBC itu? Apa kompetensinya, dan apakah informasi tersebut hanya untuk memojokkan Blair dan kabinetnya?

Minggu, 14 Juli lalu, setelah mendapat persetujuan keluarga, BBC mengakui Kelly adalah sumber rahasia mereka. Memperhatikan kapasitas dan lakon yang dimainkan Kelly, publik mempercayai berita itu, dan pemerintah semakin panas-dingin. Tapi di tengah sorotan dan tekanan hebat dari publik, Kelly membantah kecurigaan itu. Ia mengatakan pada Komite Parlemen ---yang mengadakan penyelidikan tentang keabsahan kerja intelijen--- bukan dia yang menjadi sumber berita itu.

Bantahan yang dilakukan, sehari sebelum dirinya melenyapkan diri. Kematian Kelly mengangetkan semua orang. Ada apa? Pandangan dunia kembali menyoroti Downing Street, kantor Blair. Salah seorang anggota komite dari Partai Buruh, Andrew Mackinlay, menyampaikan rasa maaf jika ternyata pertanyaannya yang menyerang Kelly, membuat dia stress. BBC mengeluarkan pernyataan singkat,”Kami terkejut dan dan sedih atas apa yang terjadi. Dan kami menyampaikan rasa simpati yang dalam terhadap keluarga Dr Kelly dan sahabatnya.”
(dari berbagai sumber)

bersambung…

...asa


Terlalu banyak asa kupertaruhkan dan terlalu banyak waktu kutakhiraukan

Terasa lama aku tak menjengukmu. Bukan karena aku tak bisa dan tak ada waktu kosong untuk itu. Tapi, aku berpikir tentang sebuah isi dan memaknainya. Di tengah rasa kosong yang menyungkupi, aku ingin kembali. Aku ingin menjengukmu lagi, dan kembali menggoresi lembaran-lembaranmu dengan warna-warni hidupku.

Entah sampai kapan...
hingga kekosongan kembali menjemputku.

Saturday, July 05, 2003

Aku tak ingin...


Lahir...
Menyusu...
Merengek...
Merangkak...
Tertawa riang di taman kanak-kanak...
Belajar membaca dan berhitung di SD...
Cinta pertama di SMP...
SMA (belajar...belajar...dan mulai berpikir masa depan)
Berorganisasi, berdiskusi, dan aktivitas sosial di bangku kuliah...
Kerja...kerja...dan kerja
Menikah...
Kehidupan rumah tangga...
Mempunyai anak-anak...
Pensiun...
Lanjut usia...
...dan MATI

Aku kini berada di salah satu fase dari siklus kehidupan---yang sangat rutin dan begitu membosankan. Tapi aku tak ingin mati. Aku tak ingin mati dan ingin hidup terus...Aku juga tak ingin ditinggal mati oleh orang-orang terdekatku, oleh orang-orang di sekeliling.

Atau, aku harus mengubah siklus ini atau keluar darinya. Sehingga aku tak pernah merasakan mati.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?